Arab Saudi: Negara Dengan Sejarah Panjang Yang Banyak Dimanipulasi Dengan Kebohongan Dan Pemalsuan

Arab Saudi: Negara Dengan Sejarah Panjang Yang Banyak Dimanipulasi Dengan Kebohongan Dan Pemalsuan

Arab Saudi adalah negara di dunia dengan sejarah panjang yang banyak dimanipulasi penuh kebohongan, penipuan, dan pemalsuan.

Kaum komunis dan nasionalis pada era 50-an dan Iran di tahun 80-an menulis buku-buku palsu murahan untuk mendiskreditkan Arab Saudi. Kemudian sebagian negara Arab lainnya bergabung dengan mereka untuk mendukung edisi-edisi modern berikutnya yang kuno.

Peneliti dan jurnalis Mesir, Ehab Omar pernah menulis sebuah buku al-Khalij al-Brithani, sebuah buku yang konon mengisahkan bagaimana Inggris membentuk negara-negara Arab Teluk.

Buku manipulatif sejarah الخليج البريطاني

Padahal sumbernya buku harian Hempher. Padahal Hempher’s Diary tidak lebih sebuah karangan yang ditulis oleh musuh-musuh Saudi pada tahun 1868 dengan penuh kebohongan.

Hempher adalah karakter fiktif yang tidak ada, inilah yang telah dibuktikan oleh Harvard University for Strategic Studies, sebagaimana peneliti sejarah George Baker mamastikannya sebagai buku harian palsu.

Karena itulah, sering terdengar slogan-slogan Saudi adalah pengkhianat dan Raja Abdulaziz mengadakan perjanjian bersama Sykes-Picot, sebagaimana yang selalu dituduhkan oleh jamaah ikhwan dan “amsar.” Berikut ulasan sejarah singkat yang sebenarnya.

Setelah Perang Dunia Pertama, sebuah kompetisi internasional terjadi antara Kerajaan Inggris dan Prancis untuk mengontrol keuntungan atas tanah jajahannya, termasuk wilayah Syam.

Tetapi mereka bersepakat dengan perjanjian rahasia, sehingga tidak terjadi peperangan di antara mereka dengan berbagi wilayah, sebagai gagasan dua perwira Prancis dan Inggris, Sykes dan Picot.

Ketika itu, Arab Saudi hanyalah gurun tandus dengan suku-suku yang saling bermusuhan. Dan Abdulaziz bin Saud telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menyatukan mereka.

Dan masa itulah kesempatan besar bagi Abdulaziz dan pendukungnya, karena penjajah disibukkan dengan perang dunia, maka pertempuran penyatuan Saudi dimulai dalam beberapa dekade.

Di perbatasan Irak, Kuwait dan Yordania, beberapa pertempuran kecil terjadi, Saudi menyerang Yordania timur dan Irak selatan, karena beberapa di antaranya adalah tanah milik negara Saudi pertama. Maka terjadi bentrokan Saudi dan Inggris, sampai berakhir dengan kesepakatan untuk mendemarkasi perbatasan.

Terjadilah Pertemuan antara delegasi negara-negara tersebut. Dan satu-satunya negara Arab yang langsung diwakili oleh delegasinya adalah Arab Saudi yang dipimpin oleh Raja Abdulaziz. Sedangkan Kuwait, Irak dan Yordania diwakili oleh delegasi Inggris yang dipimpin oleh Sir Percy Cox dan Mayor John Moore.

Selama negosiasi berlangsung alot, penuh dengan memaksakan pendapat dan tarik-menarik sampai berakhir dengan demarkasi akhir.

Kemudian datang pendengki yang mengaku ahli sejarah mempromosikan gambar-gambar perundingan tersebut, mengklaim bahwa terjadi pengkhianatan terhadap Arab, padahal Arab Saudi langsung dipimpin oleh Amir Abdulaziz, sementara negara-negara terjajah lainnya diwakili pihak Inggris.

Mereka bernegosiasi, seperti laki-laki, melintasi perbatasan “yang mereka buat dengan pedang,” sementara pihak lain menyerah kepada fait accompli yang membuat Inggris mewakili untuk bernegosiasi dan “menggambar perbatasan dengan pena.”

Cukuplah Abdulaziz, semoga Allah merahmatinya, seorang legenda sejarah yang didzalimi oleh kelompok komunis di Arab kala itu, karena dialah satu-satunya yang mendirikan negaranya dengan pedang dan pembelaan, sementara semua negara di sekitarnya terjajah.

Itulah sebabnya Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di kawasan yang memiliki hari yang bersukacita dalam persatuannya, sebagai hari nasionalnya (yaum al-wathan), dan tidak disebutkan seperti negara lain sebagai hari kemerdekaan yang pernah dijajah.

Penyebaran pemikiran komunis di era 50-an dan konspirasi kelompok-kelompok Islam serta partai-partai pembebasan revolusioner menjadi campur aduk.

Padahal terjadi kontradiksi secara intelektual, tetapi mereka menemukan musuh bersama Kerajaan Arab Saudi, karena mereka hidup di bawah tekanan penjajah.

Dan penjajah meninggalkan mereka dan perbatasan yang telah disepakati, membuat mereka mencurahkan kemarahan kepada Saudi tanpa alasan.[]

Ditulis oleh: News Admin