Bir Halal di Arab Saudi, Lagi-lagi MBS Disalahkan dan Dianggap Yahudi

Bir Halal di Arab Saudi, Lagi-lagi MBS Disalahkan dan Dianggap Yahudi

Sebagian pembenci Arab Saudi selalu mencari cara menyudutkan negeri yang dipimpin Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS). Aib dan kesalahan Kerajaan Arab Saudi dikorek hingga tidak tersisa satupun kebaikannya.

Benar, kemaksiatan dan keburukan memang ada di Arab Saudi. Untuk mengungkapnya sangat mudah, pun tidak semuanya benar terjadi kecuali ditambah-tambahkan atau dilebih-lebihkan.

Hati penuh kebencian dan kedengkian berapi-api hanya pandai mengulas keburukannya, sangat sedikit -jika tidak dikatakan tidak pernah- mem-blow up kemajuan, kebaikan dan peran Arab Saudi untuk umat Islam dan kemanusiaan global.

Persis istri yang hanya pandai mengangkat 1 kesalahan sang suami daripada ribuan kebaikannya selama ini.

Ada dalih, karena demi cinta terhadap al-Haramain, maka perlu membelanya, agar tidak rusak oleh tingkah penguasa Al Su’ud. Tetapi itu hanya omong kosong.

Buktinya? Ketika al-Haramain diserang secara terang-terangan dan keji, semua yang mengaku ingin mengungkap fakta Arab Saudi, diam membisu, tutup mata, tidak ada pembelaan, tetapi justru menyalahkan Saudi.

BACA: “Agar kita ingat siapa yang pertama kali mengebom Yaman? Kami akan melihat di mana (bencana) dimulai.”

Dan setiap waktu digulirkan rumor bermacam-macam sejak Saudi distempel “wahabi” yang haus darah, tidak menerima perbedaan di luar kelompoknya, radikal, pendana teroris, dan seterusnya. Stereotype satu barisan dengan kelompok Syiah dan kafir.

Semua tahu, latar belakang kebencian sejak berdirinya Kerajaan Arab Saudi pertama berdiri hingga generasi ketiga saat ini; agama, ekonomi dan politik.

Tetapi yang lebih penting, rakyat, ulama dan pemerintah Arab Saudi tahu dan paham siapa dibalik propaganda yang selalu berkampanye hitam menyerang negerinya.

BACA: Peringatan Syaikh Fauzan Al Fauzan: Mengapa Mereka Begitu Membenci Arab Saudi?

MBS Akan Terus Diserang & Minuman Keras Dilegalkan di Arab Saudi

Beberapa waktu belakangan ada yang menyebarluaskan bahwa sejak MBS menjadi Putra Mahkota, banyak kebijakan Saudi yang liberal dan sekuler.

Padahal, dengan tegas MBS menegaskan UUD Kerajaan Arab Saudi yang dulu, sekarang dan akan datang tetap berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

BACA: MBS Bicara Al-Quran Dan As-Sunnah Sebagai Konstitusi Kerajaan Arab Saudi

Pernyataan tegas terang benderang itupun masih dipelintir beberapa media tidak bertanggungjawab yang mempelintir bahwa MBS menolak hadits kecuali yang mutawatir.

Pemelintiran alias tahrif kalimat atau pernyataan terhadap MBS bukan hal baru, sebagaimana tuduhan-tuduhan jahat lainnya, seperti hubungan Arab Saudi-Irael, bebas berbikini di pantai Saudi, dan sangat banyak lain lainnya yang bisa Anda baca bantahannya di saudinesia.

Benar, jika ada yang dulu dilarang saat ini dibolehkan, sebelumnya tertutup kemudian menjadi terbuka. Tetapi lantas dengan ringan mengatakan sebagai upaya liberalisasi dan sekulerisasi? Apakah yang menuding ini mengerti betul bagaimana syari’ah Islam yang lebih besar tetap berjalan di negeri Saudi?

Jika kebodohan bisa diangkat dengan ilmu, maka Pangeran Abdulrahman bin Mosaed bin Abdulaziz Al Saud sempat mencuit: “Corona mungkin akan ditemukan obatnya, tetapi kebodohan dan kebencianmu bisa jadi tidak ada obatnya.”

BACA: Saudi Dikabarkan Izinkan Pemutaran Film Porno

Termasuk di antaranya adalah tudingan minuman beralkohol telah dilegalkan di Arab Saudi. Bisa jadi yang menuduh demikian tidak paham kadar minuman yang tampak seperti bir atau miras yang diperjualbelikan di negera-negara Barat. Atau memang kebencian dan kedengkian yang mendarah daging telah membutakannya.

BACA: Putra Mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman: “Kami Tidak Akan Pernah Melegalkan Alkohol”
BACA: Saudi Bantah Berita Legalisasi Alkohol
BACA: Fitnah Lagi, Riyadh Dikabarkan Mempertimbangkan Untuk Melegalkan Alkohol

Seperti juga komentar Ustadz Ahmad Sarwat beberapa tahun lalu bahwa dirinya tidak mau meminum suatu produk minuman di Madinah, “karena di Jakarta dibilang haram, tapi di sini dibilang halal.”

BACA: Di Jakarta Dianggap Haram, Di Madinah Beredar

Silahkan saksikan video singkat di bawah ini:

Ditulis oleh: News Admin