Kisah Taksi Gelap Di Riyadh

Kisah Taksi Gelap Di Riyadh

Ini adalah kejadian nyata di kota Riyad, ibukota Arab Saudi, tahun 2008 lalu. Ismail (nama samaran) adalah seorang pemuda Saudi yang tak punya ijazah tinggi, ia bekerja sebagai satpam. Dengan susah payah ia mengumpulkan gajinya untuk kebutuhan & masa depannya. Setelah beberapa waktu, akhirnya terkumpul juga ia pun menikah.

Tidak lama, ia dikarunia 2 anak lelaki & seorang anak wanita. Ismail mulai berpikir keras, bagaimana mengelola gajinya; untuk kontrak rumah, kebutuhan 3 anak dll. Lama-kelamaan ia terdesak, telat membayar perpanjangan kontrak rumah.

Lebih parah lagi, ia memiliki ipar-ipar yang jauh di atasnya baik pangkat maupun pemasukannya juga gaya hidupnya. Mereka sering mengundang makan, sehingga Ismail mau tidak mau sungkan kalau cuma diundang melulu & makan gratis.

Ia pun harus balas mengundang mereka untuk menjaga raut muka di hadapan keluarga. Akhirnya hutang pun mulai menumpuk akibat perkara yang sebenarnya bagian dari tersier. Ia mulai lari & menghindar dari undangan-undangan tersebut yang membebani mental juga finansialnya.

Istrinya mulai berubah sikap & perlakuannya terhadap ismail. Anak-anaknya pun mulai tumbuh mengerti, melek & melototi pola hidup paman-paman mereka dari ibunya; yang rumahnya besar, yang mobilnya ada layar tontonannya dst.

Omongan mereka terkadang lepas control dalam berkomentar; ayahmu miskin, rumah masih sewa, mobil ringsek, gajinya minim dst. Sang anak pun lapor ke ayah mereka yang sudah maksimal berupaya tak kenal lelah. Sebagai ayah, Ismail berusaha memberikan pengertian pada anaknya bahwa dunia itu tak bisa berjalan sesuai keinginan kita. Untuk meraih sukses dengan cara yang bersih & benar (halalan thayyiban) harus dengan perjuangan mati-matian.

Keadaan semakin tak berpihak pada Ismail, kontrakan yang sudah nunggak sekian lama tak kunjung bisa ia lunasi. Pemilik rumah pun mengusirnya plus mempermasalahkannya di pengadilan. Tak punya pilihan lain, Ismail memulangkan istrinya ke rumah saudaranya beserta anak-anaknya untuk sementara sampai Allah -Ta’ala- bukakan jalan hidup yang lapang. Ipar-iparnya tsb bukan menghibur atau membesarkan hatinya, malah mereka menghujani Ismail dengan cela & cacian. Sampai terjadilah perceraian….

Ismail memilih tempat tinggal kos bujangan yang sederhana, yang penting tak kehujanan atau kepanasan dalam rangka menghemat irit. Dunia pun terlihat gelap di matanya. Namun pantang baginya menyerah apalagi meminta atau mengemis karena ia punya harga diri (‘izzatun nafs).

Siang malam dia bekerja tanpa mengenal Lelah. Setelah jam kerjanya usai, dengan mobil ringseknya dia menarik penumpang untuk menambah pemasukan. Setiap akhir bulan, ia berikan gaji plus hasil naksi untuk mantan & anak-anaknya. Begitulah ia jalani hari-harinya.

Di suatu hari libur, Ismail keluar dari kosnya untuk menarik penumpang. Tiba-tiba ada seorang kakek berusia 70-an dengan baju amat sederhana menyetopnya.

“Tolong antarkan aku ke alamat ini, rumah putriku” kata si kakek. “Siaaap” sahut Ismail. Seusai sepakat akan harga yang wajar 200 reyal (kurang lebih 600K), Ismail mengangkat & memasukkan koper tua berdebu milik penumpangnya ke bagasi mobilnya.

Obrolan pun mengalir diantara mereka sambil menikmati perjalanan yang berjarak 350 km dari kota Riyadh. Kakek menanyakan status & keadaan Ismail. Sang driver menjelaskan statusnya sebagai duda tak laku, ekonomi morat-marit dll. Ismail pun menjelaskan keadaan pahit dirinya yang sebenarnya.

Jawaban itu membuat si kakek terenyuh. Seorang warga Saudi, narik taksi gelap dengan mobil mirip rongsokan? Sepertinya tidak masuk akal.

Si kakek pun menyatakan empatinya & menghiburnya, “Baik, aku tambah ongkosmu jadi 500 reyal (kurang lebih 2jt)”. Ismail tentu sangat gembira & berterima kasih padanya, ia merasa seolah dunia mulai tersenyum padanya. Satu kali jalan, dapat ¼ gajinya. Yassalaaam…

Selang beberapa saat kakek itu memegang dadanya yang terasa nyeri, Ismail pun menyamping ke tepi jalan guna memberi kesempatan pada penumpangnya untuk istirahat sejenak & meminum obatnya.

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan mereka, Ismail pun deg-degan sambil terus melirik kakek di sampingnya. Ia pun hendak melanjutkan obrolannya, tetapi si kakek tak menyahut. Dipanggil…dipanggil. Ternyata ia telah meninggal. Inna lillah….

Tentu saja Ismail gugup, perjalanan masih tinggal separuh lagi. Ia pun berhenti di puskesmas terdekat, lalu menjelaskan kepada petugas di sana tentang apa yang dialaminya. Tentu saja petugas tidak begitu saja percaya, mereka langsung menghubungi polisi karena kaitannya dengan hilangnya nyawa seseorang.

Ismail pun bersumpah kepada petugas polisi seraya menjelaskan keadaan dirinya yang tak kekurangan masalah & kejadian yang dialaminya. “Kita tunggu hasil visum tim kedokteran. Anda kami tahan untuk sementara, hingga jelas sebab kematian kakek tersebut.” Tegas pak polisi.

“Ya Rabbi… ya nasib. Badai apa lagi yang sedang menerpaku??? Ampuni & kasihanilah daku ya Rabb, hamba-Mu yang papa ini”. Seru Ismail…

Setelah dua hari, terbitlah hasil visum yang menegaskan bahwa Ismail bersih tak bersalah. Wafat kakek itu wajar nan alami bukan korban kriminal. Putra-putri kakek itu hadir di kantor polisi & berterima kasih pada Ismail atas kebaikannya mengantar ayah mereka seraya menanyakan ongkos taksinya.

Ismail balik berterima kasih pada mereka & pamit undur diri untuk balik ke Riyadh tanpa meminta ongkosnya, “yang penting aku selamat keluar dari problem ini” begitu hematnya. Mereka pun saling bermaafan lalu berpisah.

Mobil tua miliknya pun melaju dengan gas yang ditancap full menuju ibukota. Ia berfikir tentang tempat kerjanya, jangan sampai aku di pecat karena tidak izin. Satu jam berlalu, Ismail menepi untuk isi bensin & minum minuman hangat guna mengendorkan syaraf-syarafnya yang tegang. Tiba-tiba ia teringat koper kakek tua di bagasinya.

Oooh… La hawla wala quwwata illa billah

Ia pun berpikir sejenak, kalau lapor polisi bakal panjang lagi urusannya. Disalahkan lagi, interogasi lagi, ditahan lagi, …waduuuh. Mending langsung saja ke anak si kakek. Tetapi ia tak punya alamatnya kecuali alamat anak perempuannya. Ya sudah ke sana dulu.

Akhirnya Ismail kembali ke kota kecil tadi untuk menemui ahli waris si kakek. Ia pun ikut menshalatkan jenazah kakek tersebut sekaligus takziyah ke rumahnya. Anak-anaknya juga merasa heran, orang ini kok balik lagi ya? tadi kan sudah pamit? “Walad halal (orang yang baik hati betul)” gumam mereka.

Ismail Kembali berfikir, “Mereka dalam masa berkabung, mengapa aku harus sibukkan dengan tas koper yang isinya –wallahu a’lam– baju bekas/lusuh mendiang kakek itu”. Akhirnya ia memutuskan untuk singgah di losmen yang sesuai dengan isi sakunya, bahkan ia sapu bersih sampai ke recehnya.

Setelah dua hari berlalu kembali Ismail menghadap keluarga si kakek. Namun ia menyebut nama anak perempuannya, karena mendiang kakek memintanya untuk mengantarkan dirinya ke rumah anak perempuannya.

Terjadilah serah terima “koper misterius” antara Ismail dengan ahli waris. Ismail berada di ruang tamu, sedang ahli waris membawa koper itu ke dalam ruang keluarga & membukanya….

Ternyata isinya adalah setumpuk sertifikat rumah, kebun & tanah di kota Riyadh serta uang cash 3 juta reyal (12M) juga beberapa arloji bermerk internasional milik kakek yang tampilannya seperti orang tak punya.

Akhirnya salah satu anak laki-lakinya memberikan amplop 5ribu reyal (kurang lebih 20jt) kepada Ismail sebagai tanda terima kasih. Namun ada suara perempuan dari dalam menahan ismail yang sedang pamit untuk sabar & memanggil dua saudara laki-lakinya ke dalam ruang tengah.

Subhanallah…. Anak wanita itu lebih berakal & bijak dari saudara-saudaranya. Ia melotot & berteriak di depan kedua saudaranya, “Pantaskah kalian memberinya segitu??? (dan tidak sedikit kita temui orang yang tipenya hanya memanfaatkan begini – sangat disayangkan) Kalau saja koper itu jatuh di tangan orang lain, minim uangnya dikuras bersih kalau tidak semuanya dibawa lari.

Terus kita dapat apa?!!! Orang itu tidak boleh meninggalkan rumah ini kecuali dia ridha kepada kita. Kalau kalian tidak mau memberinya pemberian yang layak, aku akan memberinya dari bagianku!” tegasnya

Mereka pun sepakat memberi Ismail 500 ribu reyal (2M) plus sertifikat tanah strategis di kota Riyadh seluas 900M2. Allahu akbar….

Tentu saja hati Ismail mendadak seperti kapas yang ditimang oleh angin sepoi-sepoi, bahkan serasa bumi melemparnya terbang melayang ke awan biru. Ia langsung tersungkur guna bersujud syukur, lalu berterima kasih kepada ahli waris kakek yang telah berbaik hati kepadanya sekaligus memberikan suntikan dana yang amat menyegarkan fisik & mentalnya dalam menghadapi problematikanya.

Pendek kata singkat cerita, uang itu Ismail bayarkan hutangnya & belikan rumah untuk ditempati mantan & anaknya. Keluarga mantannya atau bekas ipar-iparnya kaget terbelalak dengan lompatan yang dialami oleh Ismail, mereka tidak tahu apa-apa.

Mereka pun berusaha untuk mengembalikan Ismail pada adik mereka. Namun Ismail tidak sudi hidup dengan wanita mata duitan yang tak setia mendampinginya kala susah.

Adapun tanah itu, Ismail jual lalu ia gunakan uangnya untuk membeli rumah sederhana & menikah lagi. Kemudian sisanya ia gunakan untuk membuka usaha berwira swasta. Sekarang ini Ismail memiliki puluhan karyawan yang bekerja di kantornya dengan gaji yang menggiurkan….

Demikianlah buah Amanah yang manis dirasakan oleh Ismail.

Wassalam.

Dari Sumber Terpercaya, oleh Ustadz Thoriq Abdul Aziz At-Tamimi, LC.MA حفظه الله تعالى

Ditulis oleh: News Admin