7 Tantangan Warga Indonesia Tinggal di Arab Saudi

7 Tantangan Warga Indonesia Tinggal di Arab Saudi

Sebagian warga Indonesia ada yang dilahirkan di Arab Saudi, terutama di kota-kota tua seperti Jeddah dan Makkah. Tetapi sebagian besar merupakan pendatang yang lahir dan tumbuh berkembang di Tanah Air.

Bagi penduduk Indonesia yang lama menikmati iklim tropis, mengenal kearifan lokal, budaya, adat istiadat dan bahasa ibu, ketika berhijrah ke Biladul Haramain, terjadi culture shock.

Berikut beberapa tantangan warga Indonesia saat tinggal di Arab Saudi dan tips mengatasinya.

Tidak Paham Bahasa Arab

Bahasa resmi Kerajaan Arab Saudi adalah bahasa Arab. Meski logatnya berbeda-beda antar wilayah, tetapi bahasanya sama sebagaimana bahasa agama Islam dalam al-Quran dan hadits.

Mayoritas Pekerja Migran Indonesia (PMI) baik yang bekerja di bidang formal maupun domestik, tidak dibekali dengan kecakapan bahasa Arab yang memadai. Hanya sebagian kecil yang memiliki latar belakang santri atau pernah mengikuti kelas kursus, mampu memahami bahasa Arab.

Setelah menetap di Saudi, pekerja formal lebih banyak berinteraksi dengan warga internasional daripada pribumi dan bahasa dalam dunia kerja adalah bahasa Inggris. Sehingga penyerapan bahasa Arabnya kurang.

Sementara pekerja domestik yang tinggal dan membaur dengan keluarga Arab, mampu cepat paham dan hafal bahasa Arab percakapan atau pasaran (‘Aamiyah) daripada bahasa resmi pemerintahan atau media massa.

Tantangan ini membuat sebagian WNI kesulitan mengikuti peraturan atau kebijakan pemerintah terkait dengan keidupan warga asing di Arab Saudi. Atau kesulitan saat berkomunikasi dengan pihak-pihak tertentu.

Meskipun demikian, kursus-kursus bahasa Arab kini banyak didapati dengan berbagai sarana, maka ini menjadi solusi. Selain teknologi juga telah memudahkan untuk menerjemahkan secara instan, meskipun mesin penerjemah sering membingungkan dan merubah struktur bahasa.

Tidak Mengerti Kontrak Kerja

Sebagian PMI di sektor informal, seperti sopir pribadi dan Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) tidak mengerti isi Perjanjian Kerja (PK) yang disepakatinya. Akibatnya, banyak hak PMI yang diabaikan.

Beberapa kasus terjadi karena calon PMI saat di Indonesia hanya mengikuti apa kata sponsor dan tidak benar-benar membaca isi kontrak kerjanya meski ditandatanganinya.

Untuk itu disarankan kepada siapa saja yang hendak pergi ke Arab Saudi untuk bekerja, benar-benar mengikuti program persiapan yang disediakan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Jika ini masih dirasa kurang, maka memahami bahasa PK adalah keharusan.

Tidak Mampu Menuntut Hak

Kasus PMI terkait ketenagakerjaan kerap terjadi di Arab Saudi, sayangnya tidak semua warga Indonesia mampu membela dirinya sendiri dan menuntut hak-haknya.

Biasanya dikarenakan faktor bahasa dan kurang keberanian untuk menuntut hak yang semestinya diterima. Tidak heran, orang Indonesia di negeri Arab diidentikkan sebagai warga paling pernurut dan mau mengerjakan apa saja.

KBRI Riyadh atau KJRI Jeddah memiliki nomor layanan terpadu (hot line) untuk menerima berbagai pengaduan, baik ketenagakerjaan maupun kekonsuleran. Selain pengaduan ke wakil Indonesia tersebut, ormas dan LSM Indonesia siap menampung pengaduan dan membantu menyelesaikan masalah PMI.

Cuaca Ekstrim

Tidak sama dengan iklim Indonesia yang bersahabat dengan fisik warga Indonesia, di Arab Saudi akan menjumpai cuaca yang sangat berbeda.

Di mayoritas wilayah Arab Saudi akan mengalami pergantian 2 musim; panas dan dingin. Kedua musim tersebut bisa sangat ekstrim di beberapa wilayah seperti Perbatasan Utara, Madinah, Riyadh atau di Wilayah Timur.

Untuk itu diperlukan pakaian dan tempat yang sesuai saat menghadapi cuaca ekstrim baik panas maupun dingin. Sebagian orang disarankan mengosumsi suplemen atau vitamin, untuk menjaga vitalitas badannya.

Adat Kebiasaan Yang Berbeda

Memegang kepala orang lain di Arab Saudi hal yang biasa, tetapi kebalikannya bagi orang Indonesia dianggap kurang adab. Perbedaan adat dan kebiasaan seperti ini banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di Arab Saudi.

Contoh lainnya, perangai orang Arab yang sebenarnya ramah tetapi kerap berbicara dengan nada tinggi meski saat bersenda gurau. Berbeda dengan adat di Indonesia yang lebih banyak merendahkan pembicaraan kecuali saat marah.

Untuk tidak ada salahnya mempelajari budaya Arab melalui bacaan atau informasi visual yang biasa tayang di televisi Indonesia saat bulan suci Ramadan.

Restoran dan Bahan Makanan Indonesia yang Jarang

Bagi pecinta kuliner Nusantara dan sulit berpindah ke menu lainnya, harus siap mendapati langkanya restoran atau bahan masakan Indonesia di mayoritas kota di Arab Saudi.

Kecuali di beberapa kota yang banyak bermukim warga Indonesia, seperti Jeddah, Makkah, Riyadh atau Madinah. Selain itu, restoran yang menawarkan menu yang pas dengan lidah WNI, akan suit dijumpai.

Begitupula dengan bahan masakan di pasar atau supermarket sulit ditemukan. Ada beberapa supermarket atau toko yang menjual produk impor dari Indonesia langsung, meskipun tidak lengkap. Sebagai gantinya, harus siap menyesuaikan dengan produk dari negara lain yang paling mendekati, seperti Pilipina atau India.

Warga Indonesia Jarang Tampak di Tempat Umum

Warga Arab Saudi lebih akrab memanggil fisik seperti warga Indonesia dengan “kabayan” atau sapaan lain khas Pilipina. Ini karena orang Arab lebih akrab dengan warga asal Pilipina daripada Indonesia. Karena kedekatakan fisik, maka WNI pun akan dianggap sebagai Pilipino.

Sebab lainnya karena warga Indonesia jarang tampak di tempat-tempat umum seperti mall atau lainnya. Sementara warga Pilipina sering berkumpul di tempat-tempat tertentu yang sudah dikenal.

Kecuali di masjid, maka wajah-wajah Asia Tenggara akan mudah ditebak mereka adalah WNI, karena sebagian besar Pilipina non muslim yang tidak ke masjid. Maka, perbanyak ke masjid agar mudah mencari orang Indonesia, begitu pendapat sebagian orang.[]

Ditulis oleh: admin