Arrahmah: Di Antara Media Pembenci Arab Saudi

Arrahmah: Di Antara Media Pembenci Arab Saudi

Arab Saudi tidak pernah luput dari sorotan media internasional, termasuk di Nusantara. Ini menguatkan bukti bahwa Arab Saudi merupakan kiblat kaum muslimin, sehingga apa saja yang terjadi di dalam negeri Saudi “bernilai jual” untuk disebarluaskan.

Sayangnya, rata-rata media telah mengambil posisi sebagai penyebar kedustaan dan kedengkian terhadap Biladul Haramain. Buktinya, berita yang dikupas selalu mencari sisi negatif atau ketergelincirannya daripada menyebar berita positif seperti prestasi dan sumbangsih Arab Saudi untuk kaum muslimin dan dunia internasional.

Bahkan, tidak hanya mencari sekecil apapun aib negeri Saudi, yang tidak terjadipun diada-adakan alias menciptakan hoax.

Tujuannya? Menyebarkan kebencian terhadap Arab Saudi yang di dalamnya terdapat al-Haramain, dua kota suci umat Islam. Motifnya dibangun atas ketidaksukaan atas berkuasanya Al Su’ud (politik), selain kecemburuan ekonomi dan agama.

Sebagian berdalih sebagai upaya “nasehat” atau dilandasi sikap cinta dan kasih sayang atas sesama umat Islam, tetapi mereka lupa, bahwa niat saja belum cukup tanpa cara yang dibenarkan oleh syari’at.

Sebagai contoh, media dan netizen berulangkali menviralkan kabar dusta tentang Arab Saudi. Mulai hoax penghalalan miras dan diskotik, legalisasi film porno, kebebasan wanita berbusana bikini di pantai hingga anjing yang dibiarkan berkeliaran di Masjidil Haram.

Terakhir, hoax Saudi melarang penayangan shalat di Masjidil Haram, seperti yang ditulis Arrahmah. Sebelumnya, sangat banyak hoax yang menyerang Arab Saudi.

BACA: KUMPULAN HOAX DI ARAB SAUDI

Meskipun media mengusung nama islami atau mengklaim membawa aspirasi umat Islam, tetap saja mengulangi kebiasaan menulis dan menyiarkan berita tanpa tabayun. Berita negatif sekecil apapun, diblow up dan diframing. Kapan mereka mengedepankan kejujuran dan adab menyebar berita?

Berita Dusta Arrahmah Terbaru

Berita Arrahmah berjudul: “Pertama Kalinya! Saudi Stop Siaran Langsung Shalat Di Masjidil Haram,” bukti salah satu kualitas media yang mengusung nama Islam tetapi jauh dari nilai islami.

Liputan yang ditulis Hanoum tersebut menulis dusta mengatasnamakan Saudi Press Agency yang melarang penayangan shalat di Masjidil Haram.

Padahal instruksi dari Kementerian Urusan Islam Arab Saudi adalah agar tidak menggunakan kamera di masjid untuk merekam imam dan jemaah saat melakukan shalat dan tidak menyiarkannya di media manapun. Perintah ini tidak termasuk Masjidil Haramaian.

Adapun peraturan dan instruksi menyambut Ramadan tersebut sangat banyak, di antaranya mengingatkan imam dan muadzin serta pengurus masjid agar disiplin dalam waktu dan melayani jamaah lebih baik, termasuk hal kebersihan dan program buka puasa.

Tetapi memang asalnya media tersebut diliputi kedengkian, maka selalu mencari cara menggoreng berita agar dapat mendiskreditkan Arab Saudi.

BACA: DUA WAJAH AL-JAZEERA UNTUK MENYERANG ARAB SAUDI

Gaya jurnalistik murahan seperti ini bukan monopoli media sekuler dan kafir di dunia Barat. Tetapi sama yang dilakukan oleh media Syiah, Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT) atau kelompok sufi. Mereka berada dalam satu barisan menulis hal serupa di atas.

Jadi, sejatinya mereka memiliki musuh bersama; bukan sekedar faktor politik Kerajaan Arab Saudi, tetapi Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah.[]

Ditulis oleh: News Admin