Negara (Boleh) Gurun, Tapi Sejahtera

Negara (Boleh) Gurun, Tapi Sejahtera

Mari buka mata. Global Talent Competitive Index (GTCI) 2021 telah dirilis. Diterbitkan oleh INSEAD (Top Business School di Perancis) bersama Portulans Institute dan Accenture setebal 328 halaman menggunakan dimensi talenta (SDM) dan keterkaitan dengan indeks kompetitif (daya saing).

Menyajikan data lebih dari 125 negara. Indikator lengkap ada di model terlampir.

Laporan GTCI 2021 ini menempatkan 4 negara gurun yang tergabung dalam GCC-Gulf Cooperation Council, dalam tabel pertama dari tiga tabel yang dirilis, yaitu:

  1. United Arab Emirates, peringkat 25
  2. Qatar, peringkat 36
  3. Saudi Arabia, peringkat 41
  4. Bahrain, peringkat 44

Semua negara gurun tersebut (juga Kuwait dan Oman) masuk kategori berpendapatan tinggi (High Income Group) sama dengan negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Sebagai referensi, di Asia Timur dan Tenggara hanya Singapura, Jepang, dan Korea Selatan yang masuk dalam kategori high income.

Selama mukim di Arab Saudi (KSA), produk-produk Eropa dan Amerika sangat mudah dijumpai di negara ini, bahkan di kedai retail kecil di daerah (tidak hanya kota besar).

Selain pemerintah sangat selektif dan memperhatikan kualitas produk impor yang dikonsumsi masyarakat, ini juga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat cukup tinggi.

Bisa dibayangkan bagaimana kesejahteraan mereka. Penduduk KSA berpendapatan tinggi, tapi biaya hidup relatif terjangkau. Tidak seperti di negara-negara high income lain, yang biaya hidupnya juga tinggi.

Sebagai contoh dosen PTN di sini, secara rerata pengeluaran sekitar 20-30 % dari take home pay untuk biaya hidup setiap bulan. Dengan sekira 3-4 bulan gaji yang diterima dosen muda, sudah bisa membeli mobil baru secara tunai.

Pemerintah juga memberikan tunjangan rumah, transportasi, dan tiket liburan keluarga setiap tahun. Lagi pula sekolah atau kampus negeri (S1-S3) dan rumah sakit milik pemerintah seratus persen gratis. Jalan tol dan sebagian besar lahan parkir juga gratis. Masyaa Allah.

Patutlah dalam suatu penerbangan domestik di Tanah Air, kebetulan duduk di sebelah orang putih (bule) berkebangsaan Inggris tinggal di London. Saya membuka percakapan dengan menanyakan asal dan tujuan ke Indonesia.

Kemudian dia ganti bertanya: “Anda dari mana?” Saya jawab: “Saya asal Indonesia, tapi tinggal dan bekerja di Arab Saudi”. Secara spontan dia merespon: “Wow, crazy rich country, right.”

Saya pun tersenyum penuh makna menanggapi pernyataannya. Bisa dipahami karena beberapa pemilik klub sepakbola Inggris berasal dari negara gurun.

Jadi, kalau ingin menerima gaji standar Eropa tapi biaya hidup mirip Indonesia, maka disinilah (KSA) tempatnya.

#catatan_dari_kampus_tepian_laut_merah

Sumber: https://www.insead.edu/…/dept/fr/gtci/GTCI-2021-Report.pdf

*) Disalin dari status FB Anton Satria Prabuwono, Professor di King Abdulaziz University

Ditulis oleh: News Admin