Kisah Inspiratif Mahasiswa di Saudi: Sekolah Itu Penting, Berbakti Kepada Orang Tua Jauh Lebih Utama

Kisah Inspiratif Mahasiswa di Saudi: Sekolah Itu Penting, Berbakti Kepada Orang Tua Jauh Lebih Utama

Seorang kawan yang menjadi dosen di Taif bercerita. Beliau mengajar sore hari setelah Ashar, ada seorang mahasiswa yang selalu datang terlambat. Meskipun demikian tetap diperbolehkan masuk kelas.

Sampai akhirnya dosen bertanya: Mengapa selalu datang terlambat padahal kuliah sore hari?

Mahasiswa tersebut menjawab: “Setiap habis Ashar saya harus memberi makan onta-onta di ladang ternak”.

Dosen bertanya lagi: “Mengapa tidak nanti saja setelah pulang kuliah?”

Jawab mahasiswa: “Itu perintah orangtua (Bapak), saya sama sekali tidak berani menunda apalagi membantah.”

Masih menganggap cerita itu hanya gurauan, terkesan absurd, selalu terlambat kuliah karena memberi makan onta, sampai suatu saat menghadapi kejadian serupa.

Pada awal pandemik, ketika kegiatan perkuliahan masih online, ada seorang mahasiswa yang belum juga hadir pada saat Ujian Akhir Semester secara online padahal sudah 30 menit berlalu. Saya coba hubungi melalui pesan WA, tetapi tidak ada jawaban.

Kemudian saya telpon langsung untuk memastikan keberadaannya. Ternyata dia sedang mengemudi kendaraan mengantar pulang ibunya dari rumah saudara. Dia mengatakan bahwa sudah bilang ada Ujian Akhir, namun ibunya tetap menghendaki si anak mengantarkannya. Jadilah dia mengikuti perintah ibunya.

Dia minta maaf kalau menyusahkan dosen, dan berharap diberi kesempatan ujian meskipun terlambat. Sayapun mengatakan: “Ya sudah, hati-hati mengemudi dan segera buka komputer begitu sampai rumah.”

Dalam hati, anak ini berkorban demi ibunya meskipun resikonya gagal ujian. Ini sepertinya tidak menjadi masalah bagi si anak, daripada menyelisihi orangtuanya.

Selanjutnya, semester 1 lalu ada seorang mahasiswa yang rajin dan aktif, sampai pertengahan semester hasil ujian midterm-nya juga bagus. Tiba-tiba setelah midterm, menghilang begitu saja sampai akhir semester.

Saya cek di sistem informasi akademik, ternyata sudah menarik diri, membatalkan mata kuliah yang diambil.

Singkat cerita, mahasiswa tersebut mengambil kembali mata kuliah yang sama di semester 2. Saya ingat betul, karena mahasiswa ini aktif, duduk di barisan depan dan sering bertanya terkait materi yang disampaikan.

Di akhir kelas saya memanggilnya dan bertanya: “Mengapa semester lalu membatalkan mata kuliah padahal nilai quiz dan midtermnya bagus”.

Mahasiswa itu bercerita bahwa orangtuanya (bapak) sakit, dan meminta dia menjaganya. Ada beberapa saudara (abang) yang tinggal bersama, tetapi Bapak menghendaki dialah yang menjaga.

Setelah menghela nafas panjang, mahasiswa itu berkata: “Saya bisa apa Doktor, selain mematuhi kehendak orang tua. Jadi saya batalkan semua mata kuliah yang diambil.”

Masyaa Allah, saya tertegun dan mengerti, kebanyakan mereka adalah anak-anak yang berbakti kepada orangtua.

Sementara di negeri lain, anak (remaja) berselisih dengan orangtuanya karena alasan sekolah (kuliah) atau hal lain yang tidak sepaham, tetapi di sini mereka sangat taat kepada orang tuanya.

Mereka seperti menyampaikan pesan: “Benar, sekolah itu penting, namun berbakti kepada orang tua jauh lebih utama.”

#catatan_dari_kampus_tepian_laut_merah

*) Dari FB Anton Satria Prabuwono, Professor di King Abdulaziz University.

Ditulis oleh: News Admin